Celebesplusonline.com ( Wajo Sulsel ) — Musmuliadi, Calon Legislatif DPRD Kabupaten Wajo Partai Keadilan Sejahtera (PKS) nomor urut 4 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Wajo IV diapresiasi dan dijempol oleh audiens Gelar Wicara “Wajo mau dibawa ke mana? Ayo caleg bicara!” yang membersamai Elfrianto, S.T., M.I.Kom nomor urut 1 yang merupakan incumbenk Partai Amanat Nasional (PAN) pada dapil yang sama.

Gelar wicara ini dihelat oleh Liga Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Wajo malam ini di Warung Kopi BBG, Siwa, tepatnya di Kelurahan Bulete, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.Kamis ( 1/2/2024)
Musmuliadi dan Elfrianto menjadi hanya dua-duanya caleg yang menghadiri undangan Panitia Pelaksana dari puluhan caleg yang ada di Dapil Pitumpanua-Keera ini.
Beberapa hadirin menyayangkan hal ini. “Separuh saja dari puluhan caleg Dapil IV yang hadir itu sudah sangat bagus,” ujar seseorang dalam forum.
Mereka menyayangkan para calon legislator melewatkan momen langka ini. Acara yang ditengahi oleh Muh. Fikram sebagai moderator ini diisi dengan sesi tanya-jawab setelah kedua caleg diberi waktu berbicara.
Terdapat tiga penanya yang menyayangkan hanya dua calon legislator yang hadir, padahal sebagaimana dakuan Panitia semua partai sudah diundang.
Musmuliadi beberapa kali menyoroti tentang eksodus warga Pitumpanua-Keera yang meninggalkan kampungnya untuk mencari penghidupan yang lebih baik. “Ini artinya potensi daerah belum digali secara maksimal,” kata Musmuliadi yang juga pegiat Komunitas Pendakwah Keren (KPK) ini.
Dia juga menyinggung banyaknya aturan yang dibuat tanpa sosialisasi terlebih dahulu kepada masyarakat dan menyebut reses-reses yang digelar akhir-akhir ini sekadar formalitas.
Sementara itu Elfrianto di antaranya berbicara tentang Rencana Tata Ruang Wilayah yang menempatkan kawasan utara Kabupaten Wajo yakni Pitumpanua dan Keera sebagai pusat industri. “Jadi suatu saat nanti Sengkang tetap sebagai pusat pemerintahan, dan Pitumpanua-Keera menjadi pusat industri,” ujar Sekretaris DPD PAN Kabupaten Wajo ini.
Kevin (sapaan akrab Elfrianto) juga menyebut bahwa anggaran harus berpihak kepada rakyat, bukannya kepada pihak tertentu saja.
Beberapa penanya juga menyinggung persoalan Danau Tempe, saat mana Musmuliadi menyoroti bahwa hal yang berlaku hanyalah penanggulangan bencana, bukannya mitigasi bencana.
Suhasmin, S.E., mantan aktivis Himpunan Pelajar Mahasiswa Wajo (Hipermawa) menyebut apa yang dilontarkan oleh kedua pembicara lebih banyak bersifat teoritis, bahkan salah seorang penanya lainnya mengkritisi pernyataan salah seorang pembicara tentang demokrasi di Indoenesia. “Demokrasi Formil dan Demokrasi Nonformil sudah lama berlangsung di Indonesia. Saya menolak pernyataan bahwa demokrasi baru berproses,” sergah salah seorang penanya.
Musmuliadi juga menyinggung dikotomi antara legislator Soppeng dan legislator Wajo di mana legislator Soppeng masih mendominasi Dapil Sulsel VIII di DPRD Sulsel.

Adam, Koordinator Lapangan Liga Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Wajo dalam sebuah pernyataannya di awal acara menyebut acara ini dilakukan berseri untuk keenam dapil. Sebelumnya gelar wicara sejenis telah terlaksana di Dapil Wajo I dan Wajo II.
Ketua Panitia Pelaksana Ahmadi mengatakan bahwa memang banyak caleg yang hadir di gelar wicara Caleg Bicara Dapil I dan II, namun di Dapil IV inilah audiens paling antusias.
Adam mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai pendidikan politik dan pendekatan politik untuk membangun demokrasi lebih baik. “Di samping mengedukasi publik, juga untuk mengetahui kapasitas para calon legislator,” ujar Adam.
Laporan : Abdul Wahab Dai / Adong
Editor : Sultan










