WAJO SULSEL — Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wajo, Andi Fakhrul Rijal B., menyampaikan bahwa semakin berkurangnya populasi ikan di Danau Tempe tidak dapat dipandang dari satu sisi semata. Fenomena tersebut, menurutnya, merupakan gambaran dari berbagai perubahan yang terjadi pada ekosistem danau dan lingkungan di sekitarnya.Senin (31/8).
Danau Tempe bukan sekadar hamparan air yang menjadi tempat ikan mencari kehidupan. Di balik riaknya, tersimpan denyut kehidupan masyarakat Wajo yang sejak dahulu menggantungkan sebagian penghidupannya pada kekayaan perairan tersebut.
Karena itu, berkurangnya populasi ikan menjadi tanda yang patut diperhatikan bersama. Setidaknya terdapat sejumlah faktor yang diduga turut memengaruhi kondisi tersebut.
Pertama, pendangkalan Danau Tempe.
Sedimentasi yang berlangsung dari waktu ke waktu membuat perairan danau semakin dangkal. Kondisi ini juga dapat meningkatkan kekeruhan air sehingga memengaruhi kualitas habitat dan lingkungan yang dibutuhkan ikan untuk tumbuh dan berkembang biak.
Kedua, masuknya bahan kimia dari aktivitas pertanian.
Penggunaan herbisida, pestisida, dan pupuk kimia di kawasan pertanian berpotensi terbawa aliran permukaan menuju danau, terutama ketika musim penghujan tiba.
Pengikisan tanah dari kawasan hulu juga dapat membawa sedimen beserta berbagai material di permukaan tanah ke dalam perairan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas air dan kehidupan biota perairan, termasuk ikan-ikan kecil dan anakan ikan yang menjadi bagian penting dari regenerasi populasi.
Ketiga, penangkapan ikan menggunakan setrum.
Praktik penangkapan ikan dengan menggunakan setrum tidak hanya mengancam ikan berukuran besar, tetapi juga dapat mematikan ikan-ikan kecil yang seharusnya memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.
Jika praktik tersebut terus berlangsung, mata rantai regenerasi ikan dapat terganggu. Ikan yang semestinya menjadi generasi penerus justru berakhir sebelum sempat mengisi kembali kekayaan perairan Danau Tempe.
Keempat, meningkatnya populasi ikan sapu-sapu.
Keberadaan ikan sapu-sapu di Danau Tempe juga menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan ekosistem perairan.
Populasi ikan sapu-sapu yang meningkat berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Keberadaannya juga perlu dikaji lebih jauh, termasuk kemungkinan pengaruhnya terhadap telur-telur ikan yang berada di dasar perairan. Karena itu, diperlukan langkah pengelolaan agar keberadaan spesies tersebut tidak mengganggu keberlanjutan ikan lokal.
Kelima, keberadaan ikan patin.
Populasi ikan patin juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem Danau Tempe. Sebagai ikan omnivora, patin dapat memanfaatkan beragam sumber makanan dan dalam kondisi tertentu dapat memangsa organisme maupun ikan berukuran kecil.
“Berkurangnya ikan di Danau Tempe tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor. Kita harus melihat kondisi danau secara keseluruhan, mulai dari kualitas air, sedimentasi, aktivitas pertanian, cara penangkapan ikan, hingga perubahan komposisi jenis ikan yang hidup di dalam danau,” ujar Andi Fakhrul Rijal B.
Ia mengajak seluruh pihak untuk menumbuhkan kesadaran bersama dalam menjaga Danau Tempe. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan mengurangi aktivitas yang berpotensi mencemari perairan serta menghentikan praktik penangkapan ikan yang dapat merusak regenerasi dan keberlanjutan populasi ikan.
“Kalau kita ingin ikan di Danau Tempe tetap ada dan kembali melimpah, maka ekosistem danaunya harus kita jaga bersama. Menjaga danau berarti menjaga sumber kehidupan masyarakat Wajo,” tuturnya.
Pesan itu menjadi pengingat bahwa kelestarian Danau Tempe bukan hanya tentang mempertahankan air dan ikan di dalamnya. Lebih dari itu, menjaga danau berarti merawat warisan alam, menjaga mata pencaharian, dan memastikan denyut kehidupan masyarakat Wajo tetap mengalir dari generasi ke generasi.
@ Kahfi #












